Imran Bin Husein
Ujian Praktek TIK
Imran
Bin Husain
Imran
bin husain adalah salah seorang sahabat nabi Muhammad. Nama lengkapnya ialah Imran
bin Hushain bin Ubaid bin Khalaf al – Khuzai. Imran bin Husain dan ayahnya,
Husain bin Ubayd, keduanya memeluk Islam pada tahun ketujuh setelah hijrah ,
setelah Pertempuran Khaybar . Dia
berpartisipasi dalam beberapa pertempuran di bawah kepemimpinan Muhammad, dan
dia memegang spanduk sukunya, Bani Khuzah
di tengah Penaklukan
Mekah . Selama kekhalifahan dari Umar Ibn Al-Khattab , Imran dikirim ke
Basra, untuk memimpin sebagai hakim dan menginstruksikan penduduknya dalam
hukum Islam dan mengelola sebagai letnan gubernur Abu Musa
Ashari sementara dia pergi dari Basra. Hasan
Al-Basridan Ibn Sirinberkata tentang dia, "Tidak
seorang pun dari sahabat Rasulullah yang memasuki Basra dapat dianggap lebih
baik daripada Imran Ibn Husain."
Selama Fitna Pertama (secara
harfiah "persidangan") periode pertikaian dan perang saudara
(656-661) antara Imam Ali Ibn Abu Thalib dan Muawiyah I ,
Imran tidak hanya memegang posisi netral, tetapi mengimbau orang untuk
menjauhkan diri dari kekerasan. Imran tercatat mengatakan, "Saya
lebih suka menjadi gembala di atas gunung sampai saya mati daripada menembakkan
panah kepada siapa pun di pesta mana pun, benar atau salah." Setiap
Muslim yang ia temui, Imran akan menasihati mereka dengan mengatakan,
"Simpan ke masjid Anda. Jika itu dibobol dengan paksa, maka tetap di dalam
ruangan. Jika pintu dibobol paksa oleh seseorang yang bertujuan mengambil hidup
dan kekayaan Anda, maka lawanlah dia.
Salah satu mukjizat ( kiramāt ) yang secara
luas terkait dalam sumber-sumber Islam tradisional adalah bahwa 'Imran dapat
mendengar salam para malaikat ' mengembalikan salam
kepadanya (di akhir setiap doa ritual) hingga ia diauterisasi (untuk wasir ). Setelah itu
dia tidak lagi mendengar salam mereka sampai Tuhan kemudian mengembalikan
[kebaikan itu] kepadanya. Pada waktu Perang Khaibar, ia datang kepada
Rasulullah SAW untuk berbai’at.
Dan
semenjak ia menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya
itu memperoleh penghormatan besar. Ia pun bersumpah pada dirinya, tidak akan
menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia.
Pertanda ini merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya
mempunyai perasaan yang amat halus. Imran bin Hushain merupakan gambaran yang
tepat bagi kejujuran, sifat zuhud dan kesalehan serta mati-matian dalam
mencintai Allah dan menaati-Nya.
Walaupun memperoleh taufik dan petunjuk Allah yang tiada
terkira, namun ia sering menangis mencucurkan air mata. "Kenapa aku tidak
menjadi debu yang diterbangkan angin saja," ia kerap meratap. Kaum
Muslimin takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak!
Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka. Mereka takut
dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka
beribadah, rukuk dan sujud, tetapi ibadah dan syukurnya itu belumlah memadai
nikmat yang telah mereka terima. Pernah suatu saat beberapa orang sahabat
bertanya pada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, kenapa kami ini... Bila
kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan
dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala. Tetapi
bila kami meninggalkanmu dan berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia
kami, maka kami pun telah lupa diri?"
Rasulullah SAW bersabda,
"Demi Allah, yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian
selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan
menampakkan dirinya menyalami kamu. Tetapi, yang demikian itu hanya
sewaktu-waktu."
Pembicaraan
itu kedengaran oleh Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan
seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam,
sebelum mencapai tujuan mulia tersebut. Bahkan walau terpaksa menebusnya dengan
nyawanya sekalipun. Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan
sewaktu-waktu itu. Ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu,
terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan
selalu dengan Allah Azza Wa Jalla.
Pada
masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Imran dikirim oleh
khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami
agama. Demikianlah, di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka ketika dikenal oleh
penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan
ketakwaannya.
Hasan Basri dan Ibnu Sirin berkata,
“Tidak seorang pun di antara sahabat Rasulullah saw. yang datang ke Bashrah
yang lebih utama dari orang ini.”
ia menghabiskan waktunya untuk
khusyuk beribadah. tidak mengijinkan seorangpun mengganggunya saat sedang
beribadah kepada Allah. ia hanyut dalam peribadatannya seolah tidak lagi berada
dibumi. dan seolah-olah ia adalah hidup di lingkungan malaikat.
Ketika terjadi pertentangan tajam
di antara Kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja
beliau bersikap tidak memihak, bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar
tidak campur tangan dalam perang tersebut, dan agar membela serta
mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Katanya pada mereka: — “Aku
lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal,
daripada melepas anak panah be salah satu pihak, biar meleset atau tidak … !”
Dan kepada orang-orang Islam yang
ditemuinya, diamanatkannya: — “Tetaplah tinggal di mesjidmu … ! Dan jika ada
yang memasuki mesjidmu, tinggallah di rumahmu … ! Dan jika ada lagi yang masuk
hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia… !” bahkan ketika ia
mengidap penyakit buang air yang selalu menggangu selama 30 tahun, ia tak
pernah merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah
kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring.
Dan ketika para shahabatnya dan
orang-orang yang menjenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya
itu, ia tersenyum sambil ujarya: — “Sesungguhnya barang yang paling kusukai,
ialah apa yang pailing disukai Allah… !” Dan sewaktu ia hendak meninggal,
wasiatnya kepada kaum kerabatnya dan para shahabatnya, ialah:
“Jika,kalian,telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan
adakanlah jamuan… !” Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan
mengadakan jamuan! Karena kematian seorang Mu’min sepertinya bukanlah merupakan
kematian yang sesungguhnya! Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana
suatu ruh yang tinggi yang ridla dan diridlai-Nya diarak ke dalam surga, yang
besarnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-rang yang taqwa. Masyaa
Allah… ia meninggal di tahun 52Hijriyah. ialah imran bin hushain. nasabnya bin
Ubaid bin Khalaf bin Abdu Nahmi bin Salim bin Ghadirah bin Salul bin Habasyah
bin Salul bin Ka’ab bin Amru bin Rabi’ah.
1.
Yazid bin Marwan berkata: “Ibrahim bin ‘Atha maula Imran, dari bapaknya
dari Imran dari bapaknya, bahwa Imran memberikan keputusan pada suatu perkara
di dalam sebuah persidangan terhadap seorang laki-laki. Maka laki-laki itu
berkata: “Demi Allah, engkau tidak adil dalam memutuskan perkara terhadapku,
dan enkau tidak bersungguh-sungguh, maka Imran berkata: “Bagaimana engkau
berkata seperti itu”, maka laki-laki itu berkata: “Telah dipersaksikan atasku
dengan sebuah persaksian bohong”. Imran bin Husain berkata: “masalah ini
terkait dengan pendapatanku, demi Allah aku tidak menjabat lagi
selama-lamanya”.
2.
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, ia berkata: “Imran bin Husain
merasakan dan mengeluhkan sakit pada perutnya selama tiga puluh tahun, maka ia
dianjurkan untuk melakukan kay (berobat dengan besi panas), diapun selalu
menolak, sampai mendekati wafatnya maka iapun mau melakukannya”.
Diriwayatkan dari Imran bin Husain, ia
berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita berobat
dengan kay (besi panas), akan tetapi kita melakukannya, maka kita tidak akan
bahagia dan selamat”. Beberapa hadis yang diriwayatkan beliau Dalam riwayat
Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah saw. menyebutkan tujuh
puluh ribu orang dari ummatnya yang akan masuk surga tanpa hisab. Beliau
menjelaskan sifat-sifat mereka:
هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا
يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Mereka adalah orang-orang yang tidak minta
diruqyah, tidak tathayyur (merasa sial karena kejadian tertentu), tidak
melakukan pengobatan dengan api, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka
bertawakkal.
Dari Abu Nujaid, Imran bin Al-Hushain Al-Khuza’i RA,
menceritakan bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menemui Rasulullah SAW.
Wanita itu hamil karena zina. Dia berkata, “Ya Rasulullah, aku berhak menerima
hukuman hadd. Tegakkanlah hukuman itu terhadapku.”
Rasulullah SAW memanggil walinya dan bersabda,
“Jagalah dia dengan baik. Apabila dia telah melahirkan, bawalah ke sini.”
Sang wali melaksanakan perintah Rasulullah. Setelah
wanita itu melahirkan, wanita itu datang menemui Nabi SAW bersama wanita
tersebut.
Lalu, Rasulullah SAW memerintahkan agar hukuman hadd
dilaksanakan terhadap wanita tersebut. Lalu ia diikat, dengan tetap mengenakan
pakaiannya (tidak dilepas). Rasulullah SAW memerintahkan agar wanita itu
dirajam. Perintah beliau pun dilaksanakan.
Setelah dia meninggal dunia, Rasulullah menshalatinya.
Umar RA berkata, “Ya Rasulullah, engkau menshalatinya, padahal dia telah
berbuat zina?”
Rasulullah menjawab, “Sungguh, dia telah bertaubat.
Seandainya taubatnya dibagikan kepada tujuh puluh penduduk Madinah, taubat itu
pasti mencukupinya. Apakah kamu menjumpai sesuatu yang lebih utama daripada
seseorang yang mengorbankan dirinya untuk Allah yang Mahamulia lagi Maha
Agung.” (HR. Muslim)

Comments
Post a Comment